sneakers wanita putih
BANYUWANGI, KOMPAS.com – Tidak ada yang mengira, perempuan yang berambut pendek yang menggunakan sepatu boot serta berseragam loreng khas angkatan darat tersebut sangat terampil menggerakkan jarum akupuntur pada pasien yang rata rata berusia lanjut di Lapangan Pesanggaran Banyuwangi.

Kepada Kompas.com dia mengaku harus bergerak cepat karena dalam bakti sosial yang dilakukan Kodim 0825, dia dibantu beberapa asisten harus melayani ratusan orang yang datang.

“Dua hari yang lalu saat bakti sosial di Lapangan Pesanggaran ada sekitar 300 orang lebih yang datang untuk terapi mulai akupuntur sampai pijat refleksi,” jelas Lettu Chb (K) Saimah kepada Kompas.com, Kamis (21/4/2016).

Dia mengaku keahliannya sebagai terapi kesehatan dan kecantikan sudah ia tekuni sejak tahun 2007. Keputusannya tersebut diambil ketika saat kecil dia berkulit coklat gelap sehingga sering dipanggil rok pramuka.

“Karena sering dipanggil rok pramuka saya janji kalau sudah punya gaji sendiri saya harus bisa belajar kecantikan,” ceritanya sambil tertawa.

Setelah lulus Secaba Kowad dan berdinas pertama kali di Jakarta dia diperbantukan sebagai pramugari haji selama 6 bulan. Selepas itu dia mengambil sekolah kecantikan di Marta Tilaar Jakarta. Bukan hanya mempelajari kecantikan wajah, perempuan kelahiran 8 Juli 1973 tersebut juga mahir sebagai penata rambut sehingga dijadikan rujukan teman-temannya.

“Saat bujang satu mess kan perempuan semua dan wajib berambut pendek jadi ya mereka potong rambutnya ke saya, kadang-kadang creambath. Saya suka melakukannya karena memang hobi juga,” ungkapnya.

Kesukaannya pada dunia terapi kesehatan dan kecantikan semakin berkembang saat di dipindahtugaskan ke Bali. Di Pulau Dewata tersebut dia juga belajar spa dan juga mengolah herbal kepada ibu angkatnya yang memiliki salon spa terkenal di pulau Bali

Pada saat sekolah calon perwira di Bandung dia tetap meneruskan kebiasannya dan memilih bangun lebih pagi dari rekan-rekannya agar bisa luluran dan merawat diri.

“Jadi kalau ada yang bilang saat pendidikan kulitnya kusem item dekil, saya sama sekali enggak. Ilmu tentang kesehatan dan kecantikan yang saya dapat saya sharing ke teman teman saat itu,” ceritanya.

Berangkat ke Lebanon

Ibu dari 3 anak tersebut, pada tahun 2008 kembali bertugas di Jakarta dan kemudian melanjutkan pendidikan sebagai terapis akupuntur, akupresur, refleksi, bekam, gurah dan sebagainya.

Saat tugas belajar ke Amerika pada tahun 2010 selama enam bulan ia pun mengenalkan terapi yang ia pelajari kepada masyarakat Amerika. “Penghargaan yang mereka berikan ke saya luar biasa. Saya sampai kaget dengan respon mereka,” jelasnya.

Hingga akhirnya pada tahun 2013 dia berkesempatan bergabung dengan kontingen Garuda ke Lebanon selama setahun dan melakukan misi sosial melakukan pengobatan terapi kepada masyarakat di sana. Selama setahun dia melakukan terapi pada 2.200 an masyarakat di Lebanon.

“Di sana ada 23 negara yang bergabung dan saya bersyukur bisa mengambil bagian dan itu pengalaman yang paling mengesankan bagi saya. Sampai saat ini saya masih sering berkomunikasi dengan mereka,” ceritanya.

Rata-rata pasien yang ia tangani di Lebanon adalah mereka yang stres berkepanjangan karena perang dan mengkonsumsi obat obatan secara terus menerus untuk menekan stres mereka. Saimah juga mengaku mengajarkan keahliannya kepada tenaga kerja wanita yang akan dipulangkan ke tanah air.

“Ada ribuan tenag kerja wanita di sana yang menunggu kepulangan ke Indonesia. Mereka banyak depresi ya akhirnya saya ajak saja mereka buat belajar pijat reflesi totok wajah sebagai modal awal dan juga mengurangi stres mereka,” ungkapnya.

Perempuan yang kembali tanah kelahirannya dan bertugas di Kodim 0825 Banyuwangi sejak Mei 2015 tersebut mengaku bercita-cita bisa memberikan pelayanan terapi kesehatan kepada seluruh masyarakat Banyuwangi secara gratis terutama di daerah pelosok. Namun selama ini terkendala dengan jarum akupuntur yang masih harus ia beli.

“Biasanya bakti sosial bekerja sama dengan perusahaan atau lembaga. Mereka yang menyediakan jarumnya kami yan melakukan terapi secara gratis. Dan saat ini saya sedang merintis mendirikan rumah sehat untuk melayani para pasien di rumah. Tentu seizin atasan. Doanya saja. Saya hanya ingin bermanfaat untuk sesama dengan keahlian yang saya miliki,” jelas perempuan yang tinggal di Perumahan Brawijaya Cefilla Indah Banyuwangi tersebut.

Mengenai pilihannya menjadi tentara, Saimah menjawab bahwa di hadapan Tuhan pertanggungjawabannya sama.

“Di hadapan Tuhan semuanya sama tidak ada bedanya laki-laki dan perempuan. Dan selama ini saya nyaman dan tidak ada masalah, Walaupun terkesan keras dan maskulin tetap tetap terlihat cantik dan bugar kan,” sebut perempuan yang hobi berlari tersebut sambil tersenyum. – sneakers wanita putih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s