lemari asam murah
BANTUL, KOMPAS.com – Serangan penyakit keket ratusan lahan cabai di Bantul, yang bisa dibilang terparah dalam 20 tahun terakhir, memang sulit diredam. Hal itu karena lahan sudah kebanyakan pupuk kimia. Untuk langkah ke depan, semestinya digencarkan pemakaian pupuk organik.

Dari 540 hektar lahan cabai yang tersebar di Kecamatan Sanden, Srandakan, dan Kretek, sekitar 450 hektar sudah terserang keket dengan kerusakan fisik cabai minimal 40 persen. Dari 450 hektar itu, 100-an hektar gagal panen. Tak punya pilihan lain, pekan lalu, Dinas Pertanian Bantul terpaksa menyemprot lahan dengan pestisida. Total dihabiskan 210 kg pestisida.

Penyebab keket atau patek (atau yang istilah latinnya Antracnoce ) ini ialah jamur coletotricum. Cabai merah dan hijau besar yang terserang akan membusuk dan nampak seperti berkarat, juga mengerut. Hanya dengan penyemprotan pestisida, serangan jamur bisa ditekan cepat, kemudian dilakukan panen dini.

Widodo, Koordinator Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) di Bantul mengatakan, lahan cabai sudah kebanyakan pupuk kimia. Dan kini terbukti fatal akibatnya. Pupuk kimia tak memberi unsur hara yang mendukung ketahanan tanaman. Tanah pun mudah bantat.

“Tanah ibaratnya adalah tubuh. Jika tubuh sehat, tak mudah kena penyakit. Sehingga, solusi jangka panjang menghadapi serangan hama penyakit pada cabai, ya hanya dengan menggencarkan pemakaian pupuk organik ke petani,” ujarnya, Minggu (14/6).

Suroto, anggota kelompok tani Dusun Sogesanden, Srigading, Sanden, dan Sukiman, petani di Dusun Dodogan, Srigading, secara terpisah, menyebut pemakaian pupuk kimia yang berlebih memang menyebabkan serangan jamur penyebab keket begitu merusak.

Petani tahu bahwa pupuk organik lebih bagus, namun dengan alasan tidak praktis dan merepotkan, banyak petani tak tertarik. Karena itu, mereka masih memakai pupuk kimia seperti Ponska, ZA, dan KCL. Tapi parahnya lagi, banyak p etani tak tahu kandungan zat kimia apa pada masing-masing pupuk. Masih asal tebar, ucap Suroto. Ia sendiri masih memakai 30 persen pupuk organik dan 70 persen pupuk kimia.

Edy Haryanto, Kepala Dinas Pertanian Bantul terus berupaya menggencarkan pemakaian pupuk organik. Pemkab Bantul sudah mendirikan pabrik pupuk organik yang akan beroperasi beberapa bulan lagi. Ini bisa melepas ketergantungan petani pada pupuk kimia.

Secara terpisah, Sekretaris Komisi B DPRD Bantul Jupriyanto mendesak agar pabrik tersebut cepat dijalankan dan produksinya bisa banyak. – lemari asam murah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s